Keajaiban Al-Qur’an dan Sunnah Tentang Puasa dan Kesehatan

Mei 25, 2017 Add Comment
Keajaiban Al-Qur’an dan Sunnah
Puasa dan Kesehatan

Keajaiban Al-Qur’an dan Sunnah  Puasa dan Kesehatan

Kesehatan - Susunan tubuh manusia terdiri dari jaringan-jaringan yang terdiri dari reaksional deskontruksif dan kontruksif pada sel dengan tujuan memproduksi energi yang cukup untuk menstabilkan kehidupan sel serta menghindari penumpukan perangkat-perangkat tubuh tak berguna yang menyebabkan disfungsi perangkat tubuh.
Akan tetapi, untuk lebih mengoptimalkan fungsi sel diperlukan zat makanan, agar fungsi sel-sel pencernaan makanan melalui perangkat pencernaan berjalan secara optimal, serta sel-sel penyedot saripati makanan pada akhir saluran pencernaan melalui penyedotan hasil-hasil proses pencernaan tersebut, juga sel-sel yang berfungsi mentransformasi hasil proses pencernaan tersebut ke seluruh sel.
Bahan-bahan makanan yang dibawa oleh darah ke sel-sel tubuh, adalah seperti karbohidrat atau yang mengandung lemak dan protein. Agar kebutuhan sel tersebut berupa energi bisa terpenuhi, sel mengoksidakan bahan-bahan ini disesuaikan dengan perangkat-perangkat yang terdapat dalam bahan makanan, juga sesuai dengan prioritas kejiwaan yang dibatasi oleh program yang terdapat dalam sel jiwa manusia.
Dalam proses pencernaan ini, sel mengubah bahan-bahan makanan dari karbohidrat ke protein, protein ke karbohidrat, dan proses ini terjadi sesuai dengan perkembangan pertumbuhan sel. Dari jaringan pengeluaran enzim yang terdapat dalam tubuh, sebagian sel bertanggung jawab membangun bahan-bahan makanan dan sebagian lagi bertanggung jawab menghancurkannya.
Proses penyuplaian sel terwujud melalui tekanan pada sistem gerak biologi terhadap sel, dan tekanan ini menyebabkan penumpukan unsur-unsur perusak dalam sel yang menyebabkan kerusakan sel. Kerusakan sel ini menyebabkan disfungsi sel-sel tubuh. Di antara disfungsi ini, adalah kerusakan pada bagian dalam pencernaan seperti luka pada lambung, yang juga terpengaruh pada tensi pencernaan dan penyedotan.
Fase penyuplaian ini berkaitan dengan keaktifan bakteri yang menebal di dalam saluran pencernaan yang menyebabkan penumpukan racun-racun dalam sel. Penumpukan ini akan berpengaruh pada perjalanan proses asimilasi dengan sel, yang menyerang pada kondisi lemah biologi secara umum. Dan untuk menuntaskan kondisi psikologi ini mesti melewati fase penyembuhan untuk membersihkan racun-racun dan bakteri lainnya, serta meminimalisir penebalan bakteri dan pengembalian fungsi sel secara total.
Proses penyembuhan ini telah dikenal oleh kalangan ahli fisiologi sebagai "tugas" yang ditempuh melalui fase puasa. Proses tersebut dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa organ di dalam tubuh manusia mulai dari organ yang terkecil hingga pada organ tubuh terbesar, sesuai dengan perbedaan fungsi dan klasifikasinya. Organ-organ tubuh manusia yang kecil ini menggunakan kerutan rongga-rongganya untuk membebaskan diri dari racun yang tersusun di dalam tubuhnya. Kemudian, organ terkecil ini memasuki fase puasa (melaparkan diri) untuk kembali menyeimbangkan kondisi fisiologisnya yang alami.
Pada organ yang lebih besar, proses biologis itu disempurnakan melalui organ yang "mengikat" —disebut juga dengan organ pengeluaran— yang membantunya dalam mengeluarkan vitalitas, kemudian organ ini melewati fase puasa.
Dalam kesempatan ini, kita jelaskan dua macam lapar dalam berpuasa; pertama puasa lingkungan, macam puasa ini merupakan akibat buruknya makanan dalam lingkungan tubuh yang meliputinya. Hal ini akan memaksa organ yang hidup untuk masuk pada proses asimilasi khusus untuk mengurangi kerusakan pada simpanan makanan. Kemudian masuk pada fase puasa yang kadang berkurang dan kadangkala meningkat sesuai dengan semakin membaiknya kondisi makan dalam lingkungan yang meliputinya.
Bentuk puasa yang kedua bersamaan dengan munculnya kondisi makanan dalam lingkungan tersebut, akan tetapi puasa ini bertujuan untuk mengalahkan proses disfungsi sel-sel akibat penumpukan racun-racun bakteri dan unsur-unsur perusak lainnya. Bentuk puasa ini disebut juga dengan puasa tugas psikologi. Sedangkan fase puasa yang dilalui oleh organ tubuh yang hidup pada kondisi ini disebut dengan "puasa pengobatan," yang berfungsi mengembalikan kenormalan organ tubuh untuk melaksanakan fungsinya. Mungkin bisa kita katakan, bahwa fase puasa ini merupakan dasar pengobatan yang orisinil tanpa bergantung pada obat-obatan kimia untuk menekan tensi kelambanan fungsi organ. Selain itu, penggunaan obat kimia juga akan berdampak pada penumpukan zat kimia pada sel yang menyebabkan terjadinya pergolakan fungsi baru dalam sel.
Masuknya sel dalam fase puasa tugas ini menyebabkan proses asimilasi berupa proses pencernaan dan penyedotan terhenti sementara. Dan pada fase puasa ini, proses pengendoran nutrisi akan mengalami perbedaan. Mungkin kita bisa klasifikasikan fase puasa ini menjadi tiga:

Pertama; Fase Puasa Pendek (Ringan)
Sel-sel organ tubuh akan mengalami kegoncangan pada fase puasa pendek ini, dan mungkin bisa kita katakan bahwa fase puasa pendek ini tidak lebih sebagai fase penyembuhan organ yang hidup untuk membersihkan cacat ringan yang menimpa fungsi psikologi terhadap sel-sel. Biasanya fase puasa pendek dalam satu tahun bisa ditetapkan sesuai dengan agenda biologi terhadap organ.
Jarak waktu fase ini biasanya mencapai 12-40 jam, hitungan ini berbeda dengan makhluk lain. Dan pada manusia, fase ini mencapai 12-16 jam. Fase ini adalah sarana yang baik untuk membersihkan dari unsur-unsur yang merugikan dalam sel, juga tidak berpengaruh pada keseimbangan fungsi yang teragendakan pada sel, hingga mencapai titik keseimbangan yang diharapkan.

Kedua; Fase Puasa Sedang
Pada fase puasa ini, sel-sel organ tubuh akan bergulat dengan penumpukan unsur-unsur yang merugikan, sehingga ia membutuhkan waktu lebih lama untuk membersihkan unsur-unsur tersebut. Maka, jika tidak ada kontrol sel besar pada fase ini, akan menyebabkan kerusakan pada sel sehingga memperlambat proses pencapaian titik keseimbangan fungsi yang diharapkan.

Ketiga; Fase Puasa Yang Lama (Berat)
Fase ini dilakukan jika terjadi kerusakan berat dalam kehidupan organ, dikarenakan organ terancam rusak akibat penumpukan-penumpukan racun dan sisa-sisa asimilasi pada sel yang memaksanya untuk masuk pada fase puasa yang sangat lama. Sepertinya telah terjadi kehancuran organ terhadap keseimbangan fungsi sel, akan tetapi tak menutup kemungkinan untuk memilih bahaya yang paling ringan, yaitu masuk dalam fase puasa —puasa yang belum menjamin hasil, apalagi lagi jika alat kontrol sel lemah.
Organ tubuh sedikit banyak telah mengoptimalkan fase puasa pendek yang kira-kira 12-16 jam dalam seminggu, atau beberapa hari dalam satu bulan. Hal itu bertujuan agar ada aturan pencegahan biologi yang bekerja untuk membersihkan unsur-unsur merugikan pada sel. Oleh karena itu, fase ini lebih diidentikkanpada fase "pencegahan" bukan "pengobatan." Dan telah dilakukan beberapa penelitian terhadap makhluk hidup yang menetapkan adanya efektivitas yang besar yang terdapat dalam kekuatan puasa ringan ini dalam menambah rangsangan kerja sel serta menambah kualitas kesehatan sel.
Semua hakekat ilmu pengetahuan ini dapat kita ketahui setelah kemajuan ilmu fungsi sel, imu kedokteran preventif, ilmu kedokteran pengobatan, dan lain sebagainnya. Akan tetapi Al-Qur'an dan sunnah Rasul telah menuturkan semua hakekat ini yang semuanya merupakan mukjizat.
Al-Qur'an menuturkan tentang puasa dan faedahnya sebagai bukti kemukjizatan ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Pada hari-hari yang ditentukan." (Al-Baqarah: 183-184)
Berdasarkan pengamatan kami, kedua ayat ini mengandung beberapa hakekat ilmu pengetahuan. Hubungan antara takwa dan puasa dari sisi kedokteran, adalah hubungan antara puasa sebagai sarana, dan pencegahan diri sebagai tujuan. Dan ini -sebagaimana telah kami jelaskan- merupakan dasar penggunaan puasa dalam pengobatan preventif. Adapun pembatasan fase dengan "hari-hari yang telah ditentukan" menegaskan kelemahan kemampuan fungsi sel manusia yang dapat menanggung beban puasa yang relatif lama. Demikian, sebagaimana yang telah ditegaskan secara ilmiah.
Dalam ayat lain, Al-Qur'an juga menegaskan manfaat yang diharapkan dari puasa. Allah Subhanahu wa Ta 'ala berfirman, "Dan berpuasa, itu lebih baik bagi kamu. " (Al-Baqarah: 184). Pada ayat di atas, kita perhatikan adanya pemakaian makna kebaikan. Hal ini sesuai dengan urgensi puasa dalam pengobatan preventif dan pengobatan penyembuhan. Dan, makna ini sama dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Puasalah, maka kamu akan sehat. " (HR Al-Bukhari)
Dalam hal ini, terdapat hubungan erat antara kondisi puasa dengan kondisi kemampuan untuk proses pengoptimalan dalam sel, dan ini menuntut realisasi pengobatan preventif dan tindakan penyembuhan. Dan ini telah kami jelaskan. Akan tetapi, proses puasa fungsi psikologi dengan beberapa macamnya membawa kekurangan dalam proses keseimbangan aktivitas sel, karena minimnya pengangkutan makanan dalam darah yang mengantarkan ke sel. Dan beberapa penelitian menegaskan bahwa sel-sel reproduksi dalam kondisi seperti ini akan mengalami penurunan dalam mengeluarkan hormon-hormon reproduksi yang dapat mengakibatkan penurunan gairah seks dan pengekangan nafsu. Hal inilah yang ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya;

"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mampu, maka menikahlah. Dan barangsiapa di antara kalian yang belum mampu, maka hendaknya dia berpuasa. Karena sesungguhnya (puasa) itu menjadi tameng baginya. " (Muttafaq Alaihi)

Penjelasan tersebut di atas menjelaskan hubungan kuat antara puasa dan efektivitas hormon reproduksi. Akan tetapi hubungan keduanya ini adalah hubungan yang jauh. Maksudnya, tatkala fase puasa itu panjang, maka prosentase pengeluaran hormon reproduksi akan menurun. Dan para ilmuwan mengarah pada pemilihan asas ilmu ini sebagai sarana penambahan fase untuk penambahan sel-sel yang diharapkanmelalui puasa sel-sel reproduksi dalam rangka pembekalan sel-sel itu dengan unsur-unsur yang disiapkan untuk proses oksidasi dan produksi energi tanpa melalui tahapan-tahapan asimilasi.

Sumber: Mata Air Ilmu

Hadits Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Mei 25, 2017 Add Comment
Hadits  Keutamaan Membaca Al-Qur’an 
(Perumpamaan Bagi Pembaca Al-Qur’an) 


Hadits  Keutamaan Al-Qur’an (Perumpamaan Bagi Pembaca Al-Qur’an)

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي عَوَانَةَ قَالَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ و حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ شُعْبَةَ كِلَاهُمَا عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ هَمَّامٍ بَدَلَ الْمُنَافِقِ الْفَاجِرِ
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Abu Kamil Al Jahdari keduanya dari Abu 'Awanah -Qutaibah- berkata telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Qatadah dari Anas dari Abu Musa Al Asy'ari ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur`an adalah seperti buah Utrujah, baunya harum dan rasanya juga enak. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur`an adalah seperti buah kurma, baunya tidak semerbak, namun rasanya manis. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur`an adalah laksana buah Raihanah yang baunya harum namun rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah, baunya tidak wangi dan rasanya juga pahit." Dan telah menceritakan kepada kami Haddab bin Khalid telah menceritakan kepada kami Hammam -dan dalam jalur lain- telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Syu'bah keduanya dari Qatadah dengan isnad ini semisalnya. Hanya saja di dalam hadits Hammam, kata munafik ia ganti dengan Fajir (orang yang berdosa). (HR. Muslim, Bukhori, Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasa’I, at-Tirmidzi, Darimi. Hadits di atas Redaksi HR. Muslim)

Sumber : MATA AIR ILMU

Al-Qur’an Dan Ilmu Pengetahuan Modern & Pengakuan Non Muslim Dunia Mengenai Al-Qur’an

Mei 25, 2017 Add Comment
Al-Qur’an Dan Ilmu Pengetahuan Modern &  Pengakuan Non Muslim Dunia Mengenai Al-Qur’an


Al-Qur’an Dan Ilmu Pengetahuan Modern dan  Pengakuan Non Muslim Dunia Mengenai Al-Qur’an



A.  ILMU PENGETAHUAN MODERN

Pengertian Ilmu Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan atau sains adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pemberlajaran dan pembuktian atau pengetahuan yang melingkupi suatu kebenaran umum dari hukum-hukum alam yang terjadi misalnya didapatkan dan dibuktikan melalui metode ilmiah. Menurut Paul B. Harton dan Chester L. Hunt[1], Ilmu Pengetahuan didasarkan pada bukti yang dapat diuji, yang dimaksud " bukti " adalah pengamatan factual yang dapat dilihat, ditimbang, dihitung, dan dapat diperiksa ketelitiannya oleh para pengamat lainnya.

Berdasarkan  pendapat para ahli, secara umum Ilmu Pengetahuan ialah kumpulan pengetahuan yang benar, sifatnya teratur (sistematik), objektif, empiris, umum (general) atau berlaku universal dan rasional serta dapat diuji atau dibuktikan kebenaranya.  Sedangkan modern sendiri  berasal dari kata latin  yang berarti sekarang ini, kata modern dalam kamus besar bahasa Indonesia mempunyai arti terbaru, mukakhir, sikap dan cara berpikir sesuai dangan zaman[2]. Istilah  modern ini  terutama ditujukan untuk  perubahan peradaban, yakni dari peradaban yang sifatnya lama menjadi peradaban yang baru, serta merupakan proses pergeseran sikap dan mentalitas diri  untuk bisa hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Peradaban modern adalah  peradaban yang sangat maju dan sangat berorientasi pada implementasi ilmu dan teknologi.

Fungsi Ilmu Pengetahuan

Fungsi Ilmu Pengetahuan menurut  Drs R.B.S. Fudyartanta[3], dosen psikologi Universitas Gajah Mada menyebutkan 4 Fungsi Ilmu Pengetahuan;

a)   Fungsi deskriptif: menggambarkan ,melukiskan dan memaparkan suatu obyek atau masalah sehingga mudah dipelajari,
b)   Fungsi pengembangan, menemukan hasil ilmu yang baru,
c)    Fungsi prediksi, meramalkan kejadian yang besar kemungkinan terjadi sehingga dapat dicari tindakan percegahannya,
d)   Fungsi Kontrol, mengendalikan peristiwa yang tidak dikehendaki.


B.  AL-QUR’AN

Pengertian Al-Qur’an

Allah berfirman;

Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu[4].

Al-Qur’an berasal dari kata Qara'a, qira'ah, qur'anah[5] mempunyai arti mengumpulkan/menghimpun, menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih, dan bacaan. Dr. Abdul Shabur Syahin[6], mendefinisikan Al-Qur’an adalah kalam  atau Firman Allah yang diturunkan ke hati muhammad SAW dengan perantara wahyu-jibril a.s.- secara berangsur-angsur dalam bentuk ayat-ayat dan surat-surat selama fase kerasulan (23 tahun), dimulai dengan surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas, disampaikan secara mutawatir mutlak, sebagai bukti kemujizatan atas kebenaran risalah islam.

Al-Qur’an adalah kitab yang paling benar, paling bermanfaat dan paling sempurna yang meliputi semua hal yang menyangkut kehidupan ini[7]. Kitab suci terakhir, yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia; dari dulu, sekarang, hingga yang akan datang. Al-Qur’an akan tetap seperti semula dan tidak akan pernah berubah, karena pemeliharaannya telah Allah jamin, Allah berfirman;

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya[8].

Fungsi Al-Qur’an

Menurut Wisnu Arya Wardhana[9] Al-Qur’an mempunyai beberapa fungsi, fungsi Al-Qur’an;

a)   Petunjuk Bagi Manusia
Untuk mendapatkan kehidupan yang baik (dunia dan akhirat), manusia harus mempunyai pedoman atau petunjuk yang berlaku sampai hari akhir nanti. Pedoman atau petunjuk tersebut adalah Al-Qur’an yang datangnya dari sang pencipta alam semesta ini. Oleh karena Al-Qur’an datangnya dari sang maha pencipta, Allah SWT, maka secara penalaran akal sehat (dalil aqliyah) tentu isi dan kandungan yang terdapat di dalam Al-Qur’an akan sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan makhluk hidup di dunia ini. Allah berfirman;

Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan Sebenarnya; membenarkan Kitab yang Telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,Sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa)[10].

(Al Quran) Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa[11].

b)   Rujukan Bagi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Sebenarnya dengan melalui penalaran sederhana saja, kita akan bisa menerima bahwa Al-Qur’an dapat menjadi dasar rujukan bagi Ilmu Pengetahuan. Penalaran sederhana ini didasarkan pada firman-firman Allah SWT;

Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu[12].

 Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah[13].

Dan dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. dan benarlah perkataan-Nya di waktu dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. dan dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui[14].

         Tiga ayat tersebut di atas menerangkan secara jelas bahwa tuhan mengetahui segala sesuatu apa-apa yang ada di langit dan bumi, baik yang bersifat ghoib maupun nyata. Allah SWT memiliki segala ilmu dan sebagian ilmu itu diperuntukkan untuk manusia seperti yang tertulis di Al-Qur’an, berbagai macam Ilmu Pengetahuan baik yang bersifat eksakta maupun non eksakta, dapat dirujuk melalui Al-Qur’an sejauh akal pikiran manusia dapat mengikutinya.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan begitu pesatnya  yang semula hanya berakar dari satu sumber yaitu filsafat, dan saat ini Ilmu Pengetahuan menjadi beraneka ragam. Berkembangnya Ilmu Pengetahuan, dikarenakan manusia selalu berpikir dan tidak pernah berhenti untuk berpikir demi kepentingan umat manusia.  Dalam upaya memecahkan masalah-masalah kehidupan ini, yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis, penelitian ilmiah perlu terus dilakukan oleh para ilmuwan dengan tidak meninggalkan moral dan agama[15].

Fakta sejarah menunjukkan bahwa perkembangan Ilmu Pengetahuan modern saat ini bermula dari pengembangan metode empiris oleh para ilmuwan muslim, ketika Eropa sedang dilanda kegelapan peradaban di abad pertengahan. Tentu saja para ilmuwan muslim mendasarkan setiap kegiatannya pada ajaran islam (Al-Qur’an dan Sunnah)[16].

Al-Qur’an dalam kaitannya dengan pekembangan Ilmu Pengetahuan, Al-Qur’an telah menambah dimensi baru terhadap studi mengenai fenomena jagad raya dan membantu pikiran manusia melakukan terobosan terhadap batas penghalang dari alam materi[17]. Al-Qur’an membawa manusia kepada Allah SWT melalu ciptaan-Nya dan realita konkret yang terdapat di Alam semesta. Inilah  yang sesungguhnya dilakukan Ilmu Pengetahuan, yaitu mengadakan observasi, lalu menarik hukum-hukum alam berdasarkan observasi dan eksperimen[18]. Ilmu Pengetahuan dapat mencapai yang Maha Pencipta melalui observasi dan eksperimen, yang teliti dan tepat terhadap hukum-hukum yang mengatur gejala alam, dan Al-Qur’an menunjukkan kepada realitas intelektual yang Maha Besar, yaitu Allah SWT lewat ciptaan-Nya.

C.  PENGAKUAN NON MUSLIM DUNIA MENGENAI KEBENARAN AL-QUR’AN

Kaum Musyrikin Pada Masa Rasulullah

Walid bin Mughirah[19], " Demi tuhan, aku baru saja mendengar perkataan-perkataan (Al-Qur’an). Menurutku itu bukan perkataan manusia biasa dan juga bukan jin. Demi Allah, Sungguh perkataannya sangat manis, sususan katanya sangat indah, buahnya sangat lebat dan akarnya sangat subur. Sungguh, perkataannya sangat agung dan tidak ada yang mampu menandinginya"

Para Ilmuwan Dunia Barat

1)   Thomas  Walker Arnold (1864-1930 M)[20], kitab suci Al-Qur’an memiliki gramatika bahasa yang sangat indah dan pesan yang disampaikannya juga sangat jelas sehingga membuat orang-orang kristen yang tidak mengerti bahasa arab sangat kagum saat menyimak lantunan Al-Qur’an.

2)   Keren Armstrong (14 Nov 1944-sekarang)[21],Al-Qur’an sekali pun pengumpulan dan penulisannya baru dilakukan setelah Muhammad wafat, hal itu tidak mengurangi orisinilitas teks Al-Qur’an dan Validitas isinya. Para peneliti dan pengkaji Al-Qur’ankontemporer- terutama non  muslim- mendapati bahwa rangkaian surah Al-Qur’an tersusun sangat rapi dan menakjubkan.

3)   R.V.C. Bodley[22], Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang telah ada sejak 12 abad yang lalu tanpa ada perubahan sedikit pun atau berkurang maupun bertambah satu huruf pun, keaslian Al-Qur’an tetap terkawal. Al-Qur’an jelas berbeda dengan kitab suci agama yahudi maupun nasrani yang telah mengalami perubahan.

4)   Rom Landau (1899-1974 M)[23], dalam surat-surat pendek Al-Qur’an, muatan pesannya sangat jelas dan berpengaruh sangat nyata. Keteraturan pesan-pesan qur'ani dalam surat-surat pendek itu bukan hasil kerja penulisnya, tetapi memang sudah menjadi ketentuan sang pemberi wahyu.


Silahkan Baca Fakta-Fakta Ilmiah  Mengenai  Kebenaran Al-Qur’an


Referensi:
[1] . Paul B. Harton dan Chester L. Hunt, Sosiologi Jilid I, (Jakarta: Erlangga, 1984, Edisi ke 6), hlm. 5.
[2] . Tim Penyusun, op.cit.,h. 589.
[3] . Sejathi, Fungsi Ilmu Pengetahuan, (http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2114500-fungsi-ilmu-pengetahuan/, 2011 ), diakses 19 september 2011
[4] .  Al-Qiyamah, ayat 17-18
[5]. Manna Khalil al-Qattan, Mabahis fi 'Ulumil Qur'an, diterjemahkan oleh Drs. Mudzakir AS dengan judul Studi Ilmu-ilmu Qur'an(cetakan 13, Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa,2009), h. 16.
[6]. Prof. Dr. Abdul Shabar Syahin, Difa' Dhidd Hujumat al-Istisyraq, diterjemahkan oleh Khoirul Amru Harahap, Lc, MHI dan Akhmad Faozan, Lc, M.Ag dengan judul Saat Al-Qur’an Butuh Pembelaan (Jakarta: Erlangga,2006), h. 2.
[7] .Dr. Abdul Basith Al-Jamal dan Dr. Daliya Shiddiq Al-Jamal, Mausu'at Al-Isyarat Al-Ilmiyah fi Al-Qur’an Al-Karim wa As-Sunnah An-Nabawiyah,diterjemahkan oleh Ahrul Tsani Fathurahman, Lc dan Subhan Nur, Lc dengan judul Ensiklopedi Ilmiah dalam Al-Qur’an dan Sunnah (cetakan I, Jakarta timur: Pustaka Al-Kautsar, 2003), h. 5.
[8] . Qs. al-Hijr, ayat 9
[9]. Wisnu Arya Wardhana, Melacak Teori Einstein dalam Al-Qur’an (cetakan III,Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), h.13.
[10].  Qs. Ali Imran, ayat 3-4
[11]. Ibid.,  ayat 138
[12]. Qs. Thaha, ayat 98
[13] . Qs. Al-Hajj, ayat 70
[14] . Qs. Al-An'am, ayat 73
[15].Imam syafi'ie,Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur’an: Telaah dan  Pendekatan Filsafat Ilmu,(Cetakan I, Yogyakarta: UII Pers, 2000), h. 1.
[16].Ibid., h. 2.
[17].Afzalur Rahman, Quranic Science, diterjemahkan oleh Prof. H.M. Arifin, M.Pd dengan judul Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan,(Cetakan III, Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 1.
[18].Ibid
[19].Lihat, Dr. Raghib As Sirjani, Pengakuan tokoh non muslim dunia tetang islam, diterjemahkan Sygma Publishing, (Cetakan I, Bandung: Sygma Publishing, 2010), h. 42.
[20].lihat, Ibid., h. 78.
[21].Lihat,Ibid., h. 138.
[22].Lihat,Ibid., h. 147-148.
[23].Lihat,Ibid., h. 178-179

Sumber: Mata Air Ilmu