Kemukjizatan Al-Qur'an dalam Bidang Astronomi

Juli 17, 2017

Kemukjizatan Al-Qur'an : Astronomi


Kemukjizatan Al-Qur'an : Astronomi

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT pada satu waktu tertentu, yaitu diturunkan pada masa jahiliyah, lebih dari 14 abad yang lalu. Ia juga diturunkan kepada masyarakat tertentu, yaitu orang arab yang mendiami kota mekkah.Walaupun demikian, Al-qur’an diperuntukkan bagi seluruh umat manusia; dari dulu, kini, hingga yang akan datang[1]. Sejak periode awal hingga sekarang, al-qur’an sebagai kitab suci agama islam kerapkali dihujat dan diragukan akan kebenarannya. Benarkah al-qur’an itu kalam illahi? Jangan-jangan al-qur’an ini hanya rekaan Muhammad saja. Pertanyaan di atas, yang meragukan kebenaran Al-qur’an sering datang dari para orientaris dan musuh islam yang ingin menghancurkan umat islam. 

Al-Qur’an yang merupakan mukjizat istimewa yang dianugerahkan kepada nabi kita Muhammad SAW. Mukjizat adalah kejadian luar biasa yang dianugerahkan Allah kepada para utusan-Nya dan bukti kerasulan mereka. Mukjizat ada yang bersifat material sehingga dapat dicerna oleh panca indra, dan dalam jangka waktu tertentu terkesan melawan hukum alam yang ada. Namun, seiring dengan kemajuan cara berfikir manusia, perlahan tetapi pasti dapat dijelaskan secara filosofis maupun ilmiah. 

Mujizat yang dianugerahkan kepada nabi Muhammad, berupa Al-qur’an yang menjadi pedoman hidup (Nidham al-hayah) bagi umat islam tidak mungkin tidak bisa dipecahkan rahasia-rahasianya. Untuk itulah, mujizat berupa Al-Qur’an ini perlu secara terus menerus dikaji secara mendalam agar kebenarannya dapat menerangi alam semesta[2]. Alhamdulillah, hingga kini telah banyak usaha untuk menjelaskan Al-qur’an berdasarkan aspek ilmiah. DR. Zakir NaikDR. Maurice BucaileDR. Gary MillarProf. Shamsar Ali serta beberapa ilmuan muslim lainnya telah memberikan kontribusi mereka. 

Melalui penelitian ilmiah, proses yang berkesinambungan dan berbagai penemuan baru selalu memberikan kontribusi dan memperkaya pemahaman mengenai aspek ilmiah Al-qur’an (telah diketahui bahwa setidaknya seperenam ayat-ayat Al-qu’an penuh dengan fakta-fakta ilmiah) [3]. Kita telah menyaksikan bahwa pengetahuan yang telah dicapai sains modern sudah dijelaskan oleh Al-qur’an 1400 tahun sebelumnya. Penemuan ilmiah akan terus berlanjut hingga hari kiamat, maka aspek-aspek ilmiah Al-qur’an akan semakin banyak terungkap. 

Ilmu Pengetahuan Modern dan Al-qur'an 
Perkembangan Ilmu pengetahuan begitu pesatnya yang semula hanya berakar dari satu sumber yaitu filsafat, dan saat ini ilmu pengetahuan menjadi beraneka ragam. Berkembangnya ilmu pengetahuan, dikarenakan manusia selalu berpikir dan tidak pernah berhenti untuk berpikir demi kepentingan umat manusia. Dalam upaya memecahkan masalah-masalah kehidupan ini, yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis, penelitian ilmiah perlu terus dilakukan oleh para ilmuwan dengan tidak meninggalkan moral dan agama[4]

Fakta sejarah menunjukkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan modern saat ini bermula dari pengembangan metode empiris oleh para ilmuwan muslim, ketika Eropa sedang dilanda kegelapan peradaban di abad pertengahan. Tentu saja para ilmuwan muslim mendasarkan setiap kegiatannya pada ajaran islam (Al-Qur'an dan Sunnah)[5]

Al-Qur'an dalam kaitannya dengan pekembangan ilmu pengetahuan, Al-Qur'an telah menambah dimensi baru terhadap studi mengenai fenomena jagad raya dan membantu pikiran manusia melakukan terobosan terhadap batas penghalang dari alam materi[6]. Al-Qur'an membawa manusia kepada Allah SWT melalu ciptaan-Nya dan realita konkret yang terdapat di Alam semesta. Inilah yang sesungguhnya dilakukan ilmu pengetahuan, yaitu mengadakan observasi, lalu menarik hukum-hukum alam berdasarkan observasi dan eksperimen[7]. Ilmu pengetahuan dapat mencapai yang Maha Pencipta melalui observasi dan eksperimen, yang teliti dan tepat terhadap hukum-hukum yang mengatur gejala alam, dan Al-Qur'an menunjukkan kepada realitas intelektual yang Maha Besar, yaitu Allah SWT lewat ciptaan-Nya. 

Baca Juga:Kemukjizatan Al-Qur'an : Fisika   Kemukjizatan Al-Qur'an : Geografi   Kemujizatan Al- Qur'an : Biologi
Keajaiban Al-Qur’an | Astronomi 
Penciptaan Alam Semesta
  
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقاً فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ -٣٠
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?[8] 

Bukti-bukti ilmiah sains modern menunjukkan bahwa alam semesta pada mulanya adalah satu kesatuan yang padu. Kemudian peristiwa alamiah terjadi dan mengakibatkan alam semesta terpisah[9]. Proses kelahiran alam semesta ternyata telah dimulai sejak sekitar 18 miliyar tahun yang lalu, yaitu sebelum terjadinya ledakan kosmis yang sangat dahsyat dari sebuah titik singularitas, ledakan itu dikenal dengan peristiwa Big Bang yang terjadi sekitar 13,7 Miliar tahun lalu[10]

Peristiwa Big Bang yang telah dikemukakan oleh Goerges LemaitreGeorge Gamow pada tahun 1930-an, dan Stephen Hawking pada tahun 1980-an telah menjelaskan kejadian awal alam semesta[11]Teori Big Bang adalah toeri yang menjelaskan bahwa alam semesta awalnya tersusun dari titik yang sangat rapat, padat, dan panas yang disebut dengan titik singularitas, dari titik inilah ledakkan kosmis mahadahsyat (Big Bang) itu terjadi[12]. Setelah terjadinya ledakkan yang sangat dahsyat itu, alam semesta mengalami pemekaran dan menjadi dingin, kemudian muncul yang kita kenal sebagai galaksi, bintang, planet dan sebagainya[13]

Pada tahun 1948[14]George Gamow dan Muridnya, Ralph Adler, menyimpulkan bahwa jika teori Big Bangmemang benar, pasti ada fosil yang tersisa, sebagaimana diutarakan Holye (penentang teori Big Bang). Menurut mereka, radiasi latar belakang tingkat rendah pasti ada disegala arah karena setelah Big Bang, alam semesta mulai berkembang ke segala arah, radiasi tersebut tersebar keseluruh penjuru. Pada tahun 1965[15], dua orang ilmuwan terkenal Arno Penzias dan Robert Wilson, menemukan radiasi berlatar belakang kosmis yang berasal dari setiap benda langit, sebagimana bentuk radiasi yang telah dibayangkan oleh Gamow dan Muridnya. Penemuan tersebut, telah menghantarkan Arno Penzias dan Robert Wilson mendapatkan hadiah nobel dibidang fisika. 

Setelah Arno Penzias dan Robert Wilson, Penjelajah Latarbelakang Kosmik (Cosmic Background Explorer, COBE), diluncurkan ke angkasa pada 1989. Data yang diterima dari COBE membernarkan temuan Penzias dan Robert[16]. Sisa radiasi yang ditemukan Arno Penzias dan Robert Wilson, serta data satelit COBE menunjukkan adanya Big Bang. Sangat menakjubkan 14 abad yang lalu, peristiwa Big Bang di atas telah dijelaskan oleh Al-Qur'an dengan sangat bijaksana dan indah[17]. Allah SWT berfirman bahwa " langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya ". Ungkapan padu dan pisah[18], "padu" dalam bahasa Arabnya disebut ritqun, hal itu menunjukan satu kesatuan yang sempurna dan padat. Sedangkan ''pisah" dalam bahasa Arabnya disebut Fatqun, maka hal itu menunjukan pecahnya satu kesatuan itu, yang diakibatkan satu ledakan dahsyat yang mengandung energi yang sangat besar. Ternyata Al-Qur'an telah menyajikan informasi dengan sangat akurat jauh sebelum teori Big Bang itu ada. 

Bumi Berbentuk Bulat Telur 
Pada masa lalu, keyakinan yang menjadi pendapat umum pada saat itu, menyatakan bahwa bumi itu datar dan bertepi. Namun lama kemudian, ternyata kenyakinan mereka bertentangan dengan fakta yang telah mereka temukan sendiri. Selama berabad-abad, sekalipun orang telah berpergian jauh, mereka gagal menemukan tepi bumi. Sir Francis Drake merupakan orang pertama yang membuktikan bahwa bumi itu bulat, yakni ketika dia berlayar mengelilingi bumi pada tahun 1597[19]

Bukti yang mereka dapatkan, adalah bagian atas dari kapal laut yang terlihat lebih dahulu dari bagian bawahnya. Mereka berfikir, kalau sekiranya bumi tidak berbentuk bulat, maka kedua bagian akan terlihat dalam waktu bersamaan. Bukti lain yang mereka dapatkan adalah lengkungan langit yang akan terlihat bulat pada jarak terjauh dari yang dapat dillihat oleh mata mereka di atas permukaan lautan[20]. Mereka tidak mengetahui, bahwa Al-Qur'an telah menyatakan hal yang sama, pada abad ke 7 masehi yang lalu. Allah berfirman; 
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ -٥
Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun[21]

Kawwara adalah kata yang digunakan untuk menunjukan bahwa bumi berbentuk bulat. Kata kawwara artinya menutupkan atau melilitkan, sebagaimana sorban dililitkan di kepala, menutupi atau melilitkan siang dan malam hanya dapat terjadi jika bumi berbentuk bulat. Bumi sebenarnya tidak benar-benar bulat seperti bola, akan tetapi geo-spherical (geoidal)[22]. Ayat suci berikut ini menjelaskan tentang bentuk bumi dengan sangat jelas; 
وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا -٣٠
Dan setelah itu kami membuat bumi dalam bentuk bulat telur[23]. 
Kata Arab untuk bulat adalah dahaha, yang artinya telur burung unta (kata Arab dahaha oleh para penerjemah diterjemahkan dengan "menghamparkan", terjemahan ini juga betul)[24]Prof. Dr. Suleyman Atec[25], mantan kepala Departemen Agama Turki, memberikan defenisi untuk kata tersebut, kata dahaha berarti membentang, memberi (sesuatu) bentuk bulat, kata dahaha juga didefenisikan sebagai permainan yang dimainkan kenari. 

Maksudnya, Allah telah telah menciptakan bumi dengan membentangkannya dalam bentuk seperti lonjong (bulat) telur[26]. Pengetahuan manusia tentang bentuk bulat bumi mengalami perkembangan, dengan kemajuan teknologi, para ilmuwan telah berhasil mengambil gambar sesungguhnya dari bentuk bumi yaitu bulat telur sebagaimana telah disebutkan oleh Al-Qur'an 1400 tahun yang lalu. 

Alam Semesta yang Berkembang 
وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ -٤٧-
Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar meluaskannya[27] 
Keadaan alam semesta telah menjadi perdepatan panjang dan seru selama beberapa dekade, apakah alam semsesta tak terbatas? Atau ia terbatas dan dalam keadaan diam (tetap). Newton percaya pada jagat raya yang tidak memiliki batas dan statis[28], begitu juga dengan Albert Einstein bersama para fisikawan (awal abad ke 20) menyakini bahwa alam semesta itu diam[29], sekalipun toeri yang dia kembangkan bagi toeri relativitasnya pada tahun 1917 menyatakan bahwa ruang angkasa sesungguhnya bergerak atau berkembang, sebagaimana yang telah ditemukan oleh Alexsander Friedmann dan Goerges Lamaitre. 

Mendasarkan peneltiannya pada rumus EinsteinAlexander Friedmann, ahli fisika Rusia, menemukan bahwa alam semesta berkembang. Goerges Lamaitre, merumuskan bahwa alam semesta diawali oleh suatu ledakan dahsyat sebuah superatom kecil, seperti tumbuhnya pohon ek dari buahnya. Teori ini menjelaskan pemekaran galaksi dalam kerangka kerja toeri Albert Einstein tentang relativitas umum[30]." 

Edwin Hubbel (1920-an), dengan teleskop canggihnya di Observatorium Mount Wilson, dia mengamati bahwa galaksi-galaksi saling menjauh, yang membuktikan bahwa alam semesta mengembang. Pada tahun 1950, teleskop dengan perbesaran tinggi, instrumen terbesar dalam jenisnya, dipasang di Mount Palomar, AS. Hasil pemuan baru membenarkan pengamatan Hubbel[31]. Setelah apa yang ditemukan oleh Hubbel dan diperkuat oleh penemuan baru yang membenarkan penemuan Hubbel tersebut, Einstein, akhirnya mengakui dalam sebuah konferensi bahwa Lemaitre benar, kemudian dia mengatakan bahwa toeri Cosmological Constant adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya[32]

Al-Qur'an telah menjelaskan fakta ini 1400 tahun lalu, manusia tentu membutuhkan data ilmiah yang terakumulasi selama masa yang sangat panjang dan memerlukan teleskop yang canggih. Al-Qur'anmenyediakan jawaban untuk masalah-masalah ilmiah paling rumit. Obsevasi yang dibuat dengan teleskop dewasa ini membenarkan pernyataan Al-Qur'an[33]

Garis Edar 
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ -٣٣
Dan dialah yang Telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya[34]
لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ -٤٠-
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya[35]." 
وَالسَّمَاء ذَاتِ الْحُبُكِ -٧
Demi langit yang mempunyai jalan-jalan[36]

Tiga ayat di atas mengambarkan, setelah terjadinya ledakan besar dan gugusan benda-benda langit terbentuk, maka tiap benda langit tidak secara sendirian bergerak dan berjalan. Akan tetapi, masing- masing terkait dengan benda langit lainnya dalam satu gugusan kosmik yang mengagumkan. Setiap benda ini memiliki kecepatan khusus dan garis edar tempat ia bergerak sehingga tidak terjadi benturan antara satu dengan lainnya, yang dapat menyebabkan kehancurannya.Kecepatan antara satu benda dengan benda yang lainnya, yang terdapat dalam satu gugusan tidak sama. Karena jika masing-masing memiliki kecepatan yang sama, bisa menyebabkan kerusakan sistem yang mengatur gerakan benda ini. Dimana masing-masing benda langit, memilki gaya gravitasi (saling menarik) dan gaya penahan (menjauh) yang berbeda[37]

Menurut Dr. Abdul Basith Al-Jamal dan Dr. Daliya Shiddiq Al-Jamal[38], Para ilmuwan selama ini telah berusaha sekuat tenaga, untuk mengetahui sistem pembagian garis edar untuk masing-masing benda langit dan ukuran kecepatan masing-masing serta hubungan satu benda dengan benda yang lainnya. Hingga mereka menyimpulkan sistem alam semesta ini sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Fakta ilmiah yang baru terungkap pada abad 19 akhir, dengan bantuan teknologi canggih, telah dijelaskan dengan indah dan sempurna oleh Al-Qur'an jauh sebelum teknologi canggih ada yaitu pada abad ke 7. 

Atap yang Terpelihara 
وَجَعَلْنَا السَّمَاء سَقْفاً مَّحْفُوظاً وَهُمْ عَنْ آيَاتِهَا مُعْرِضُونَ -٣٢
Dan kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya[39]

Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20. Atmosfer adalah selimut gas yang tak kasatmata setebal 10.000 km yang menglingkupi planet bumi[40]. Atmosfer yang melingkupi planet bumi sangat berperan penting bagi keberlangsungan kehidupan. Jutaan meteor berbagai ukuran terus menerus jatuh dari luar angkasa kearah bumi. Walaupun stukturnya transparan, atmosfer merupakan perisai yang kuat melawan serangan meteor, bagaikan perisai baja. Kalau tidak karena keistimewaan langit ini (atap yang terpelihara), tidak akan ada kehidupan di bumi[41]

Atmosfer juga berfungsi menyaring sinar-sinar berbahaya dari ruang angkasa yang dapat membahayakan keberlangsungan kehidupan di planet bumi[42]. Sangat menakjubkan atmosfer, ternyata atmosfer selain berfungsi menyaring sinar-sinar berbahaya, ia juga meneruskan sinar-sinar yang bermanfaat bagi kehidupan[43]. Atmosfer juga melindungi bumi dari suhu luar angkasa yang sangat dingin (membeku), temperatur rata-rata diluar angkasa adalah -270o celcius[44]

Atmosfer mencegah energi (berbahaya) yang datang ke bumi kembali ke angkasa. Selain itu atmosfer juga menjaga keseimbangan dengan membagi panas secara merata. Langit juga mempunyai sabuk Van Allen yang juga melindungi bumi yaitu melindungi dari hujan radiasi, yang ditimbulkan oleh matahari dan bintang-bintang lainnya[45]. Jika tidak ada atmosfer dan sabuk Van Allen ini, dapat dipastikan tidak ada kehidupan di planet bumi ini. 

"Atap yang terpelihara" dalam surah Al-Anbiya' ayat 32 merupakan tanda kekuasaan sang pencipta yaitu Allah SWT, fenomena yang terjadi tidaklah mungkin sesuatu yang kebetulan, logika dan hati kita akan menolaknya. Begitu juga, kita akan menolak jika Al-qur'an itu dikatakan sebagai produk akal dan kepintaran manusia. Keserasian dan kesempurnaan yang melingkupi semua fenomena alam semesta, tidak ada cacat sedikit pun, telah membuktikan bahwa ada yang telah menciptakan, mengatur, dan memeliharanya, dialah Allah SWT. Maha benar Allah dengan segala firmannya. 

Langit yang Mengembalikan 
Demi langit yang mengandung hujan 

kata raj'i yang ditafsirkan oleh sebagian ahli tafsir sebagai "mengadung hujan" dan juga bermakna mengirimkan atau mengembalikan[46]. Atmosfer yang melingkupi bumi terdiri dari sejumlah lapisan. Fakta ilmiah telah mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yakni ke bumi[47]. Fungsi "pengembalian" dari lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut, yaitu[48]

1. Lapisan Troposfer, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan. 
2. Lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa. 
3. Ionosfer, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh. 
Fungsi lapisan-lapisan langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut, telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Al Qur'an. Ini sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur'an adalah firman Allah SWT. 



DAFTAR PUSTAKA 
Abdusyaskir. 2006. Ada Matematika dalam Al-Qur'an. Cetakan I. Malang: UIN Malang Press. 
Al-Jamal, Abdul Basith dan Daliya Shiddiq Al-Jamal. 2003. Ensiklopedi Ilmiah dalam Al-Qur'an dan Sunnah. cetakan I.Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar 
Al Qattan, Manna Khalil. 2009. Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an. Cetakan XIII. Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa. 
Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali. 1999. Studi Ilmu Al-Qur'an. Cetakan I. Bandung: Pustaka Setia. 
As Sirjani, Raghib. 2010. Pengakuan Tokoh Nonmuslim Dunia Tentang Islam. Cetakan I. Bandung: Syagma Publishing. 
Al-Zindani, Abdul Majid bin Aziz, dkk. 2002. Mukjizat Al-Qur'an dan As-Sunnah Tentang IPTEK. Cetakan III. Jakarta: Gema Insan Press 
Mulyono, Agus dan Ahmad Abtokhi. 2006. Fisika dan Qur’an. cetakan I. Malang: UIN malang Press 
Purnama, Heri. 2001. Ilmu Alamiah Dasar. Cetakan II. Jakarta: PT Rineka Cipta 
Rahman, MD. Anisur. 2009. Einstein aja Baca Qur’an 43 Keajaiban Ilmu Pengetahuan yang Terkandung dalam Al-Qur’an. cetekan XII. Yogyakarta: Balqist 
Syafi'ie, Imam. 2000.Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur'an: Telaah dan Pendekatan Filsafat.Cetakan I.Yogyakarta: UII Pers 
Syahin, Abdul Shabar. 2006. Saat Al-Qur'an Butuh Pembelaan. Jakarta: Erlangga 
Taslaman, Caner. 2010. Miracle Of The Quran Keajaiban Al-Qur’an Mengungkapkan Penemuan-Penemuan Ilmiah Modern cetakan.I. Bandung: Mizan 
Rahman, Afzalur.2000.Al-Qur'an Sumber Ilmu Pengetahuan. Cetakan III. Jakarta: Rineka Cipta, 2000) 
Internet 
Sejathi. 2011. Fungsi Ilmu Pengetahuan, http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2114500-fungsi-ilmu-pengetahuan/. Diakses 19 september 2011 
Triantoko ,Koko dan Nur Jamilatul Khafidzoh.2008. Karya Tulis Al-Qur'an: Perilaku Kekerasan dan Upaya Legitimasi Melalui Ayat-ayat Suci Al-Qur'an. http://3an2ro.files.wordpress.com/2008/06/karya-tulis-pdf9.pdf. diakses 19 september 2011 
Yahya, Harun.Rahasia Besi. http://www.keajaibanalquran.com/physics_iron.html. Diakses 19 september 2011 

Footnote:

[1]. Caner Taslaman, The Quran: Unchallengeable,diterjemahkan oleh Ary Nilandari dengan judul Miracle Of The Quran Keajaiban Al-Qur’an Mengungkapkan Penemuan-Penemuan Ilmiah Modern ( cetakan I, Bandung: Mizan,2010), h. 19. 
[2]. Agus Mulyono dan Ahmad Abtokhi, Fisika dan Qur’an ( cetakan I, Malang: UIN malang Press, 2006), h. 1. 
[3]. MD. Anisur Rahman, The Glorious Koran and Modern Science: The Greatest Surprise, diterjemakan oleh Supriyanto Abdullah dengan judul Einstein aja Baca Qur’an 43 Keajaiban Ilmu Pengetahuan yang Terkandung dalam Al-Qur’an (cetekan XII ,Yogyakarta:Balqist, 2009), h. 9. 
[4].Imam syafi'ie,Konsep Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur'an: Telaah dan Pendekatan Filsafat Ilmu,(Cetakan I, Yogyakarta: UII Pers, 2000), h. 1. 
[5].Ibid., h. 2. 
[6].Afzalur Rahman, Quranic Science, diterjemahkan oleh Prof. H.M. Arifin, M.Pd dengan judul Al-Qur'an Sumber Ilmu Pengetahuan,(Cetakan III, Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 1. 
[7].Ibid 
[8] . Al-Anbiyaa' ayat 30 
[9]. Dr. Abdul Basith Al-Jamal dan Dr. Daliya Shiddiq Al-Jamal, Mausu'at Al-Isyarat Al-Ilmiyah fi Al-Qur'an Al-Karim wa As-Sunnah An-Nabawiyah,diterjemahkan oleh Ahrul Tsani Fathurahman, Lc dan Subhan Nur, Lc dengan judul Ensiklopedi Ilmiah dalam Al-Qur'an dan Sunnah (cetakan I, Jakarta timur: Pustaka Al-Kautsar, 2003), h. 16. 
[10] . Ir. Agus Haryo Sudarmojo, Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al-Qur'an, (Cetakan II, Bandung: Mizania, 2009), h. 8 
[11] . ibid. h. 9 
[12] . Ibid 
[13] . MD. Anisur Rahman, The Glorious Koran and Modern Science: The Greatest Surprise, diterjemakan oleh Supriyanto Abdullah dengan judul Einstein aja Baca Qur’an 43 Keajaiban Ilmu Pengetahuan yang Terkandung dalam Al-Qur’an (cetekan XII ,Yogyakarta:Balqist, 2009), h. 18. 
[14]. Caner Taslaman, The Quran: Unchallengeable,diterjemahkan oleh Ary Nilandari dengan judul Miracle Of The Quran Keajaiban Al-Qur’an Mengungkapkan Penemuan-Penemuan Ilmiah Modern ( cetakan I, Bandung: Mizan,2010), h. 39. 
[15] . MD. Anisur Rahman, loc. cit. 
[16]. Caner Taslaman, op. cit., h. 40. 
[17].Ir. Agus Haryo Sudarmojo, op. cit., h.10. 
[18].Dr. Abdul Basith Al-Jamal dan Dr. Daliya Shiddiq Al-Jamal, op. cit., h. 18. 
[19].MD. Anisur Rahman, op. cit., h. 29. 
[20].Dr. Abdul Basith Al-Jamal dan Dr. Daliya Shiddiq Al-Jamal, op. cit., h. 25 . 
[21]. Az-Zumar ayat 5 
[22]. MD. Anisur Rahman, op. cit., h. 30. 
[23]. An-Nazi'at ayat 30 
[24].MD. Anisur Rahman, loc. cit. 
[25].Caner Taslaman, op. cit., h. 117 
[26].Dr. Abdul Basith Al-Jamal dan Dr. Daliya Shiddiq Al-Jamal, op.cit., h.26. 
[27].Adz-Dzariyaat ayat 47 
[28].Caner Taslaman, op. cit., h. 33. 
[29].MD. Anisur Rahman, op.cit., h. 48 
[30]. Caner Taslaman, loc. cit. 
[31].Ibid., h. 34. 
[32].MD. Anisur Rahman, op.cit., h. 49. 
[33].Caner Taslaman, op. cit., h. 35 
[34].Al-anbiya' ayat 33 
[35].Yasin ayat 40 
[36].Adz-Adzariyat ayat 7 
[37].Dr. Abdul Basith Al-Jamal dan Dr. Daliya Shiddiq Al-Jamal, op. cit., h. 20. 
[38].Ibid 
[39] .Al-Anbiya' ayat 32 
[40]. Caner Taslaman, op. cit., h. 107. 
[41].Ibid 
[42].Ibid 
[43].Ibid., h. 108. 
[44].Ibid 
[45].Ibid 
[46].Agus Mulyono dan Ahmad Abtokhi, Fisika dan Al-Qur'an,(cetakan I, Malang: UIN Malang Pers,2006), h. 75. 
[47].Ibid.,h. 76. 
[48] .Ibid

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »